Jumat, 09 Januari 2009

Chapter 1 Part 3: Out of the Far Away Village

“Nah…ia cocok ‘kan memakai pakaian lamaku? Dengan begini, ia tak akan menarik perhatian orang,” kata Farah.
Setelah mereka keluar dari rumah Elder, mereka langsung menuju rumah Farah yang mungil dan mendandani Meredy agar tidak terlihat mencolok. Farah memilih baju terusan berwarna pink untuk Meredy, sesuai dengan figur Meredy yang pink karena rambut dan sepatu botnya.

“Kau…benar-benar akan meninggalkan Rasheans Village?” tanya Reid masih tak percaya.
“Tentu saja, aku sudah memutuskan. Aku akan menolong gadis malang ini. Kemungkinan lelaki aneh tadi memang mengejarnya,” kata Farah mantap.
“Tapi darimana kau akan mengerti bahasanya? Kau harus minta bantuan seseorang. Punya ide?” tanya Reid sambil duduk di sofa kecil tua milik Farah.
“Hm…ah! Got one! Bagaimana dengan Keele?” kata Farah bersemangat.
“Keele?? Maksudmu Keele kita itu, crybaby-good-for-nothing-Keele Zeibel???” tanya Reid mengingat teman sejak kecilnya yang bernama Keele itu.
“Hus! Itu ‘kan waktu kita masih kecil! Sekarang pasti umurnya seumuranku, 17 tahun ‘kan? Ia ‘kan sedang kuliah di Mintche University. Pasti ia pintar. Kita perlu ke sana,” kata Farah.

Reid makin skeptis dengan rencana Farah. Menurutnya semua akan mengundang bencana.
“Oh, I dunno. Mintche agak jauh. Untuk ke sana harus naik perahu lewat sungai Rasheans,” kata Reid.
“Sudah diputuskan! Tujuan kami adalah Mintche University!!!” kata Farah bersemangat, “ Ayo, temanku yang malang. Kita pergi”

Farah mengajak gadis pink itu pergi tetapi gadis itu menolak dan memeluk Reid dan tubuh Reid kembali mengeluarkan cahaya kecil berwarna pelangi yang aneh.
“Feebureel!!!!” kata gadis itu.
“Ow! Ow! Ow! Namaku bukan Feebureel!” kata Reid.
Lalu gadis itu melepaskan pelukannya pada Reid. Tiba-tiba Farah punya ide brilian.
“Reid, apa yang akan kita lakukan?” tanya Farah lambat-lambat.
“Apa maksudmu ‘apa yang KITA lakukan’ ?” tanya Reid.
Reid tahu ini akan terjadi.

“Well, kami berdua harus pergi. Tapi ia ingin bersamamu. Jadi yang mau kubilang adalah…,” Farah menghentikan kalimatnya dan tersenyum. Ide brilian mengajak Reid ikut berpetualang juga.
“Sudah kuduga,” kata Reid lemas,” Aku tahu ini akan terjadi. Dari tadi perasaanku nggak enak”
“Come on, Reid. Tidak buruk ‘kan dibutuhkan oleh gadis manis seperti dia?” Kata Farah. Reid mengangguk pasrah.
“Okay, okay,” kata Reid menyerah.

Lalu mereka berjalan keluar desa. Dan saat di perbatasan desa dengan daratan kontinen Rasheans, mereka berhenti sebentar dan memandang desa mereka.
“Akhirnya tiba hari dimana kita harus meninggalkan desa,” kata Farah sambil memandang Rasheans Village dengan dramatis.
“Jangan terdengar senang begitu. Perjalanan kita jauh sekali,” kata Reid yang masih beranggapan ini ide buruk.

Lalu mereka terus jalan di daratan yang hanya ada tanah kosong dan hutan. Mereka banyak bertemu monster disana yang bagus untuk warming up. Ternyata si gadis misterius itu punya beberapa spell yang bisa diluncurkan untuk menyerang musuh setelah beberapa detik berkonsentrasi. Formasi bertarung mereka konsisten; Reid di paling depan dan Farah dibelakangnya menyerang musuh dari jarak dekat. Dan si gadis pink itu menyerang dengan magic dari jauh. Binatang aneh miliknya pun juga bisa menyerang dengan mengibaskan ekor jika si gadis pink meniup peluitnya.

“Oh iya, Reid. Kita belum memperkenalkan diri pada gadis ini,” kata Farah.
“Hmm…apakah mudah?” tanya Reid ragu-ragu.
“Coba saja. Ng…namaku…Farah…Farah…Fa..rah…,” kata Farah pelan-pelan pada gadis itu supaya ia mengerti.
“Ituyandu-yan…Farah!” kata gadis pink itu tersenyum.
“Hey, dia mengerti! Dan yang ini Reid…Reid…,” kata Farah memperkenalkan Reid.
“Namaku Reid…Reeeeeeiiiidddddd,” kata Reid.
“Aiyandu-ariu…Reid!” kata gadis itu,” Unu yan-su…Meredy! Meredy! Meredy!”
“Meredy?” kata Farah mengerti. Nama gadis itu Meredy. Lalu Meredy menunjuk peliharaannya yang berwarna biru,
“Airu…Quickie! Quickie…!” kata Meredy. Quickie melompat lompat dan bersuara ‘Kweekeee! Kweeke…!’
“Jadi namanya Quickie,” kata Reid memandang Quickie.
“Ternyata mudah! Kita mungkin malah tak usah minta tolong Keele!” kata Farah.
“Iquwanai-truansu aires lein-godu es ti…da,” kata Meredy tiba-tiba.

Farah terlihat salah tingkah.
“Ng…mungkin kita memang harus ke Mintche…,” kata Farah berubah pikiran.
“Good idea,” kata Reid. "Better, paling tidak."

to be continued...

Rabu, 07 Januari 2009

Chapter 1 Part 2: Another Unknown

“Ia jatuh dari langit sambil menaiki benda yang aneh?” tanya sang sepuh desa yang bernama Khamran.
Reid dan Farah baru saja menceritakan kejadian seru yang tadi pada Elder. Semua orang biasa menyapanya ‘Elder’ yang dalam bahasa Inggris berarti ‘yang paling tua’
“Ya, kami tak bisa mengerti apa yang ia katakan,” kata Reid.
“Elder, jadi…apa yang harus kita lakukan pada gadis ini?” tanya Farah.

Khamran meneliti gadis itu, dalam arti ia memandang gadis itu dalam-dalam. Wajahnya, kulitnya, bajunya, dan akhirnya ia mengeluarkan keputusan yang mengejutkan.
“Dia harus diusir dari sini,” kata Khamran tajam.
Reid dan Farah terkejut.
“Ta- tapi, Elder…dia—,”kata Farah melawan.
“Lihat saja gadis ini,” kata Khamran memandang gadis pink itu, “Warna rambut yang aneh, kulitnya gelap, batu permata aneh di kepalanya, baju yang nyentrik…apalagi, ia berbicara dalam bahasa yang tidak kita ketahui. Dia bisa menjadi sumber bencana.”

Baik Farah maupun Reid diam. Farah sangat marah dan baru akan mengeluarkan argumen lagi.

BRAKKK!!!!!

“Apa itu?!” kata Reid kaget.
Semua menoleh ke belakang. Di dinding rumah yang terbuat dari kayu telah tercipta lubang dan muncullah seorang lelaki tak dikenal lewat lubang itu. Kelihatannya memang dia yang menghancurkan tembok. Penampilannya aneh, bajunya aneh, kulitnya sama dengan si gadis pink dan lelaki ini juga memakai semacam batu berlian di keningnya.
“Siapa kau?! Keluar!” kata Elder. Tapi lelaki itu tak mendengarkan.
“Karya-unidu Hyadosu!!” kata si gadis pink pada si lelaki aneh.
“Guandu yen-no aikani!!!!” balas lelaki aneh itu dan ia menyerang gadis itu.
Gadis itu terjatuh. Farah langsung marah besar
“Hey!!! Apa yang kau lakukan?!" bentak Farah. "Ayo Reid!!!"
“Hah? Ayo apa?” tanya Reid, tapi ia langsung tahu jawabannya adalah ‘bertarung’ karena detik berikutnya Farah sudah menyerang lelaki aneh itu.

Jengkel, Reid ikutan bertarung melawan lelaki aneh itu. Lelaki aneh itu lumayan kuat, Farah dan Reid terlempar berkali-kali tapi mereka bisa menang dalam waktu 11 menit. Lelaki aneh itu menghilang secara misterius.
“Fiuh…no problem!” kata Farah pede.
“Apanya yang no problem??? Tanganku hampir dipatahkan olehnya!” kata Reid.
“…urghhh….,” erang Khamran.
Farah dan Reid menoleh. Elder terduduk sambil menahan rasa sakit di punggungnya karena terlalu shock. Si gadis pink malah tak apa-apa setelah diserang oleh si lelaki aneh tadi.
“Elder, kau tak apa-apa?” tanya Farah.

Elder perlahan bangkit dan menatap marah Reid dan Farah. Tangannya menunjuk Reid dan Farah.
“Kalian berdua…lagi?!” kata Khamran, “Apakah kalian membawa bencana pada desa ini…seperti sebelumnya?!”
Farah terlihat kaget, Reid maju menghadapi Khamran.
“Elder! Ini tak ada hubungannya dengan yang dulu itu!” kata Reid panik.
“Aku tak peduli! Usir gadis itu!!!” kata Khamran membelakangi mereka semua.

Farah saat itu juga telah membuat keputusan yang mengejutkan juga.
“…Fine. Gadis ini akan kubawa jauh dari desa ini,” kata Farah tajam.
“Farah???” tanya Reid kaget.
“Ya, tapi aku juga akan ikut dengan gadis ini. Aku akan mencari tahu apa maunya,” kata Farah sangat yakin.
“Lakukan sesukamu,” kata Khamran tajam.
“Baik, aku pergi sekarang,” kata Farah. Lalu ia dan gadis pink dengan peliharaan biru yang aneh itu keluar. Disusul oleh Reid yang agak bingung.

to be continued...

Minggu, 04 Januari 2009

Chapter 1 Part 1: Strange Foreign Warning

Di desa yang jauh dari keramaian, Rasheans Village, di mana semua orang di sana menjalani hidupnya dengan damai dan santai, Reid Hershel, pemuda berambut merah berusia 18 tahun sedang berjalan-jalan di Rasheans Forest. Di situlah ia biasa berburu, ya, profesinya adalah pemburu. Ia sangat handal memainkan kapak, tombak, apalagi pedang. Ia biasa berburu sejak kedua orangtuanya tiada.
Saat ia sedang berjalan di hutan itu, ia mendengar suara seperti letupan kecil di langit. Ia bergumam bingung. Tapi toh, ia cuek dan jalan terus.Ia tak terlalu memikirkannya. Ia sedang berada di dekat menara (kalau memang pantas disebut menara…) yang terbuat dari kayu di ujung hutan tersebut ketika ia melihat seorang gadis berambut hijau di atas menara kayu tersebut. Menara kayu tersebut tidak terlalu tinggi. Reid mendongak.
“Hey, itu ‘kan…,” kata Reid melihat sosok yang familiar di puncak menara.
“Reid!!!” kata gadis di atas menara tersebut.
“Farah?” panggil Reid.
Gadis yang bernama Farah Oersted itu adalah teman sejak kecilnya yang bekerja sebagai petani dan peternak.

Sama seperti Reid, ia sudah tak punya orang tua. Ia adalah gadis yang keras kepala tapi juga baik hati. Ia kuat dan jago Kung Fu dan seni beladiri lainnya. Ayahnya dulu juga seorang ahli beladiri. Lalu Reid naik tangga dan menghampiri Farah.
“Reid! Lama tak bertemu, kau ngapain saja?” tanya Farah ceria.
“Seperti biasa kok, aku cuma berburu. Kamu ngapain di atas sini? Main petak umpet?” tanya Reid.
“Enak aja!” kata Farah, “Aku lihat warna langitnya aneh, jadi aku lihat dari sini” kata Farah sambil menunjuk ke arah langit.
“Langitnya?” tanya Reid, ia dan Farah mendongak ke atas. Memperhatikan langit. Tetapi Reid merasa tidak ada yang aneh.
“Lihat, apa menurutmu warna langitnya jadi lebih gelap?” tanya Farah.
“Masa’? Aku tak memperhatikan,” kata Reid.
“Oh, come on Reid!” kata Farah jengkel, “Mungkin sesuatu akan jatuh dari Celestia”
“Celestia? Dunia yang berada di atas dunia kita ini?” tanya Reid.
“Yeah! Mungkin akan datang sesuatu yang akan membawa kita ke suatu petualangan dan kita bisa menjadi pahlawan karena telah menyelamatkan dunia!” kata Farah terlalu bersemangat.

Reid jadi agak teringat masa kecilnya bersama Farah.
“Oh, I dunno. Apapun yang datang dari sana akan berakibat buruk,” kata Reid.
“Siapa yang tahu? Jangan terlalu yakin, belum ada kontak lagi antara dunia kita dan Celestia sejak 2000 tahun lalu,” kata Farah keras kepala.
Menurut banyak orang di dunia ini yang bernama Inferia, dunia ‘di atas sana’ yang bernama Celestia adalah dunia tempat orang-orang biadab macam pembunuh, kanibal, dll.

“ANYWAY, hidup itu sederhana; sesuatu harusnya berada dan berjalan di tempat sesuatu itu memang harus berada,” kata Reid menyimpulkan dengan tegas.
“Oh…lagi-lagi filosofi Reid…,” kata Farah kecewa, “Kau tak pernah berubah”
“Hmph,” dengus Reid cuek.
NGIIINGG…WERRRR…DARRR…

Terdengar suara bising dari atas. Reid dan Farah mendongak ke atas. Mereka melihat seperti sesuatu sedang melayang di langit, atau lebih tepatnya menukik jatuh menuju menara tempat mereka berada.
“H-hey! Apa itu!?” kata Farah kaget.
Benda itu makin dekat menuju hutan. Benda itu berbentuk bulat dan agak besar. Mata Reid sampai membelalak melihatnya. Semakin dekat.
“Benda itu semakin dekat! Farah! Loncat!!” teriak Reid.
“Reid!!!” teriak Farah.
DERRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!

Benda tadi menabrak menara tersebut hingga hancur. Untung Reid dan Farah sudah melompat turun. Jarak yang rendah membuat mereka tidak mengalami patah tulang.
“Ouch! Farah! Kau tak apa?” tanya Reid.
“Aku tak apa-apa. Di mana benda itu?” tanya Farah.
“Sepertinya jatuh ke ujung hutan sebelah sana—hey! Kau mau ke mana?!” kata Reid. Tapi terlambat, Farah sudah lari ke lokasi jatuhnya benda tersebut. Dalam sekejap Farah sudah hilang, Reid terpaksa harus menyusulnya.

Ia berlari menuju ujung hutan sambil melawan monster-monster yang ada seperti serigala malam dan beruang bulu. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seekor binatang kecil berwarna biru yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Binatang itu berbulu biru, berekor besar dan telinganya seperti telinga kelinci tapi lebih kecil lagi. Reid terus memandang makhluk itu, makhluk itu terus memandangnya juga.
“Hah? Kau makhluk yang aneh,” kata Reid.
“Kweekee!” kata binatang tersebut.
Lalu binatang tersebut lari ke arah lokasi jatuhnya benda misterius itu.
“Kau ingin aku mengikuti? Itu saja?” kata Reid, lalu ia mengikuti binatang itu dan sampai ke tempat jatuhnya benda itu.

Ternyata benda itu seperti pesawat berbentuk bundar dan sudah agak hancur akibat benturan. Lalu disampingnya ada Farah, dan seorang gadis misterius berambut merah jambu dikuncir dua, kulitnya agak gelap, di keningnya ada semacam batu berlian yang dipasang di rambutnya seperti aksesoris jepit, dan ia memakai pakaian terusan warna pink yang agak nyentrik dan aneh. Rupanya ia adalah penumpang pesawat tadi.
“Farah! Apa yang terjadi padanya? Ia baik-baik saja?” tanya Reid.
“Yeah, tapi--,” kata Farah, lalu gadis berambut pink itu menyela,
“Uandu yen-su. Tiar-haru…ayendu-reya,” kata gadis itu. Reid dan Farah bingung.
“W-what? Dia bilang apa sih?” kata Reid.
“Entahlah, aku tak bisa mengerti satu katapun. Penampilannya juga aneh,” kata Farah.

Reid melirik ke pesawat bundar milik gadis itu, pesawat itu mengeluarkan asap dan bunyi-bunyi mencurigakan yang tak ingin Reid dengar. Ia tahu pesawat itu akan meledak beberapa saat lagi.
“Em…lebih baik kita…pergi dari sini…,” kata Reid ngeri, “..berbahaya”
“Hah? Kenapa?” tanya Farah.
“BECAUSE!” jerit Reid tak sabar. Ia segera menyeret Farah, gadis serba-pink itu, dan tak lupa binatang aneh kepunyaan gadis itu menjauh dari pesawat. Dan…
BOOM!!!

Pesawat itu meledak. Bunyinya keras sekali.
“Kyaaa!” jerit Farah kaget, “…ternyata akan meledak, toh…berbahaya,”
“Yeah?! What did I tell you??” kata Reid tak sabar.
“Unaru ai yair-tu,” kata gadis pink. Lalu ia membungkuk hormat pada Reid dan Farah sambil tersenyum.
“Kurasa ia bilang terimakasih,” kata Farah menyimpulkan, “Tapi kita sama sekali nggak mengerti kata-katanya,”
“Penampilannya aneh,” kata Reid memperhatikan gadis itu, “Kulitnya gelap, warna rambutnya unik, pakaiannya nyentrik, dan…ada batu permata di keningnya. Dari mana ia berasal ya?”
“Auro-ru Rem-ya!” kata gadis pink.

Ia tiba-tiba memeluk Reid dan badan Reid mengeluarkan sinar-sinar kecil yang berwarna pelangi. Warna-warna yang tak mungkin muncul begitu saja dari kulit manusia
“Feebureel!!” kata gadis pink itu senang.
“Ow! Ow! Perih! Cahaya apa tadi di tubuhku?” kata Reid kaget.
“Aku tak yakin…,” kata Farah ragu, “…tapi lebih baik kita bawa ke rumah Elder”

to be continued....

Introduction

Left to right: Keele Zeibel, Meredy, Farah Oersted, Reid Hershel
Game ini bernama Tales of Eternia.... walaupun di Amerika dikenal dengan nama Tales of Destiny II. Game ini bercerita tentang perjuangan sekumpulan remaja yang berusaha menyelamatkan dunia setelah mereka kedatangan seorang gadis yang asing yang bicara dengan bahasa yang berbeda. Game ini dimainkan di PlayStation dan PSP.

For years, life in the sleepy village of Rasheans was routine and peaceful--that is, until the day a spacecraft crashed in a nearby forest leaving nothing but wreckage, a mysterious girl, and a desperate warning of catastrophe. Join Reid, Farah, and other valiant heroes as they set out to discover the origin of the stranded girl and the truth behind the fate of their worlds.

Ngerti? Hehe. Itu tulisan yang tertera di tempat CD-nya. Sengaja nggak gue terjemahin biar feel-nya dapet (apa sih). Ngomong-ngomong soal terjemah, tentunya hasil terjemahan cerita ini ke Bahasa Indonesia adalah kerja gue sendiri. Kerja gue sendiri! Cuma dibantu otak gue, kamus, sama nanya bokap dikit-dikit. Bahasa Inggris gue nggak buruk kok hehehehe...

Ceritanya sebenernya panjang banget. Sampe 3 CD! Tapi karena udah gue tamatin beberapa kali... akhirnya gue jadi HAFAL. Mulai dari urutan kejadiannya, lokasinya, permasalahannya, bahkan DIALOG PERSISNYA gue hafal. Nggak semua sih, tapi kira-kira 70 % gue hafal dialog Bahasa Inggris-nya, gue terjemahin ke Bahasa Indonesia. Bagian yang gue nggak terlalu hafal gue jadiin IMPROVISASI hehe tapi point-nya sama.

4 karakter utama game ini udah dipost kan diatas? Ada nggak perasaan deja vu pas denger beberapa nama tersebut? Kalo iya, berarti lo pinter. Kalo enggak, ya... gitu deh. Hehe bercanda deng....oke gue jelasin ttg yang deja vu itu.
Nama belakangnya Farah kan Oersted ya. Oersted itu diambil dari nama belakangnya Hans Christian Oersted--seorang ahli fisika dan kimia dari Denmark.
Nama belakangnya Reid--Hershel--kemungkinan besar diambil dari nama belakangnya Sir Frederick William Herschel. Beliau adalah seorang astronom dari Jerman yang menemukan Planet Uranus.
Nah, keren kan referensi namanya? Game ini juga involving astronomi sih... tunggu sampe ke bagian si Keele Zeibel.

€Perlu diketahui terlebih dahulu, game ini lokasi kejadiannya adalah di dunia yang bernama Eternia. Dunia ini unik, terdiri dari dua daratan yang saling berhadapan. Kira-kira begini:



Daratan yang diatas bernama Celestia, dan yang dibawah bernama Inferia. But of course, bagi orang-orang Inferia ya Celestia yang diatas dan bagi orang Celestia ya Inferia yang diatas. Kedua dunia tersebut saling berhadapan. Tentunya ada gaya gravitasi dong.Yang ditengah itu adalah langit. Disebut dengan Orbus. Disana ada semacam lapisan barrier gitu untuk membatasi. Barrier tersebut bisa diarungi nantinya, kayak air.

Kontak antara Inferia dan Celestia udah nggak terjadi selama 2000 tahun lamanya.

Who knows what is gonna happen? Peringatan apa yang akan turun dari langit? Tunggu ceritanyaaaa bakal gue post dalam waktu dekat!